Ketika Hanya Persinggahan

Kemarin ketika sedang berjalan menuju rumah seorang sahabat, mobil yang saya kendarai tiba tiba harus berhenti sejenak, terhenti oleh keranda yang membawa jenazah keluar dari gang menuju jalan raya dan mengharuskan semua kendaraan berhenti, sekedar memberi penghormatan terakhir dan ALLAH memang sedang menunjukan kepada semua pengendara bahwa suatu hari kita yang saat ini berada didalam kendaraan mewah ber-AC akan berada di keranda bertutupkan kain hijau bertuliskan “Innalillahi wa inna illaihi rajiun“, iya keranda yang menuju pemakaman itu suatu hari akan kita kendarai, siap tidak siap, suka tidak suka kematian pasti datang, artinya lagi memang di bumi ini kita hanya singgah, yang namanya singgah pasti tak lama, kalau kelamaan diusir sama yang punya tempat  :)

Kemudian saya diam sejenak, menikmati keranda yang lewat didepan mobil sambil berpikir, jika saya hanya singgah didunia ini, kenapa saya dan banyak sekali manusia yang terpedaya indahnya, tercengang, terlena dengan segala kenikmatan sementara yang disajikan ditempat persinggahan ini, padahal ALLAH memberi menempatkan saya ditempat singgah ini plus diberikan bekal rejeki selama singgah pasti tujuannya agar saya siap melanjutkan perjalanan ke rumah yang sesungguhnya bukan malah bengong, kesasar dan menikmati persingaahan ini, betah lagi alias gak mau pulang

Ah, how STUPID we are jika terpesona dengan sesuatu yang pasti kita tinggalkan…

Kembali saya merenung (bengong kali tepatnya ya De? he eh) :)  jika hidup ini adalah persinggahan sejenak saja maka  semestinya saya harus jadi tamu yang baik, tamu yang nurut apa kata siempunya rumah dan tamu yang tahu diri untuk bersiap siap beranjak pulang, gak betah ditempat singgah, terbayang bayang rumah yang sesungguhnya, seperti janji ALLAH bahwa di ujung perjalanan nanti ALLAH menyiapkan sebuah rumah yang sangat indah, yang dibawahnya mengalir air sungai, yang tamannya penuh dengan buah dan bunga bunga indah, yang teman saya nanti adalah lelaki tampan yang ketampanannya seribu kali diatas level tampan Nicholas Saputra, :)

Ah membayangkan saja saya sudah terkagum kagum indahnya hidup di rumah terakhir yang dijanjikan ALLAH  jika saya baik baik selama singgah, rumah terakhir bagi hamba hamba yang dicintai dan mencintai ALLAH tentunya, dan untuk sampai ketempat seindah ini tentu syaratnya tak mudah… beli apartment di Jakarta yang tanpa tanah saja syaratnya berderet apalagi rumah seindah rumah ALLAH, begitu bukan? :)

Jadi tempat persinggahan ini sesungguhnya gak ada apa apanya dibanding tempat yang dijanjikan ALLAH, namun saya  justru terpana dengan persinggahan sementara ini, dan lalu menganggap penampungan sementara ini abadi, dan sangat indah, melihat gubuk saya sangka istana bersama si dia yang saya cintai, padahal ini maksiat namanya berduaan dengan yang bukan mahrom saya, melihat kolam kecil saya sangka danau bahkan melihat kue serabi saya sangka martabak spesial, intinya terpana, terpesona, terlena kalau kata Ike Nurjanah :) hehehe…  saya menjadi kabur dan tertipu oleh karena keterpanaan yang menerpa :)

Sekarang dengan kesadaran penuh bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan, saya TIDAK boleh terpesona, terlena apalagi tersesat dan tidak tahu jalan pulang, PARAH … sebagai tempat persinggahan yang segera akan saya tinggalkan, maka suka tidak suka saya harus menyiapkan bekal pulang, agar selamat sampai ditempat tujuan, karena yang ini sementara dan yang sana kekal, lebih baik gak terlalu nikmat disini tapi nikmat disana !!

Yuk, perbanyak bekal pulang, percaya deh disini tak seindah disana, rumah kita sendiri …

:)

About these ads

30 thoughts on “Ketika Hanya Persinggahan

  1. Assalamu’alaikum

    Lama tak Singgah ke temapat sahabat-sahabat, eit ternyata banayk yang telah berubah… sudah launching buku baru pula, selamat ya!

    Semoga tulisan rindu selalu menjadi salah satu ilmu yang bermanfaat bagi umat, jadi ladang amal untuk rindu dunia dan akhirat.

    Salam – Cak Mamad

  2. mudah2an diberikan umur panjang yang bermanfaat dan diakhiri dengan khusnul khotimah, aamiin…. nuwun teh rindu atas semuanya…… (kayak di jewer jewer aja nih kuping biar sadar dan ga mudah terpesonalagi…..)

  3. Assalamu’alaikum mbak…..dah lama nih gak mampir ke sini… setelah lama pensiun muda dari dunia perblogan…. :)
    Ibnu A’Thaillah berkata : Sungguh mengherankan, orang yang lari dari apa yang dia tidak bisa terlepas darinya dan malah mencari apa yang tidak kekal baginya. ” Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (Q. 22:46).
    Mungkin ini yang dinamakan amnesia akut, lupa siapa sejatinya dirinya itu….padahal ruh itulah yang akan pulang kembali kepada Alloh SWT untuk dimintai pertanggungjawaban selama masa kekhalifahannya di muka bumi…..sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanya permainan dan senda gurau belaka.

  4. wow!! persepsi yang amat bagus Indah! Agree with you so much dagh.. jadi kalo berperilaku di rumah singgah aja kaga bener gimana mau dapet rumah beneran yak? xixix… thanks Indah for remind us ;)

  5. terima kasih telah mengingatkan…
    iya, bekal harus kita perbanyak.. unutk perjalanan menuju rumah kita sendiri… :)

    smoga Allah senantiasa melindungi kita.. amin…

  6. Amien…. semoga dari tulisan ini hati kita semua selalu ingat akan Empu-NYA….:D serta terketuk hati agar melaksanakan perintah-NYA and menjauhi larangn-NYA

  7. Sdh lama ga singgah ke kebun ade.. :-), like this.. (^^)b..
    Oh ya hampir lupa salam’a.. Hehe.. Assalamu’alaikum warohmatullah ade’.. :-)

  8. Tulisan yg menyentuh. Sering saya dengar di sini di Aceh dari teungku*teungku baik yg biasa maupun yg mendalami tasawuf. Ade orang Aceh? Daerah mana tuh?

  9. Sungguh tulisan Ade ini sebuah perenungan yang dalam. Aku nangis bacanya De. Kematian adalah muara dari semua sandiwara yang kita lakoni selama ini. Ke rumah Allah jua lah tempat kita yang kekal. Kita semua ibarat sedang berdiri di depan peron sebuah stasiun kereta, menunggu sambil melihat-lihat jam keberangkatan menuju kampung keabadian. Bagi yang sadar rumah Allah lebih indah, maka dia akan bergegas dengan bekal agar lekas berangkat. Tapi yang terlena dgn hiruk-pikuk di dekat stasiun dia lalai dan akhirnya lupa kereta tumpangan datang juga. Terimakasih sudah ngingatin saya yang sering lupa ini … Jazakallah khairan!

  10. Terima kasih kak ade sudah mengingatkan :) pengen punya rumah indah di akhirat nanti jadi harus menyiapkan bekal mulai dari sekarang, yosh semangat ganbatte ikimashou :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s