Didalam Diam
Coretan dibawah ini saya tulis dibuku harian saya dengan tulisan tangan, tanggal 29 Desember 2009, entah apa yang saya rasakan saat itu, saya insomnia amnesia untuk mengingatnya, dan tak perlu diingat lagi memang, mengingat yang lalu kan hanya akan menyesakan dada
yang saya tahu saat itu saya ingin diam ditengah keramaian, diam bak samudera yang tenang, bak danau yang hening, mari diam dan renungkan catatan saya *motivator mode on* hehehe …
Kata orang bijak “Kebenaran itu bukan untuk dipelajari, melainkan ditemukan” karena semua teori nampak benar, jarang ada teori salah, namun ketika teori menjadi aplikasi, mulai terjadi try and error, maka pertanyaan saya selanjutnya adalah: “Di mana mencarinya? iya dimana mencari kebenaran itu” and talking about life, bicara tentang hidup maka jawabnya adalah “Di dalam diam! iya kebenaran hanya bisa ditemukan dalam diam, dan saya menemukannya” Sebab, di dalam diam itu saya bisa berbicara dengan hati.
Seberapa sering saya bertanya “apakah ini benar, apakah itu salah?” dan jawabannya selalu saya temukan ketika saya hening dan diam, tak perlu curhat sana sini, tak akan saya temukan disana, karena kebenaran ada dalam hati nurani
Hati merupakan teleskop dari jiwa bukan, sedangkan mata merupakan teleskop dari hati…
Manusia sering mempertunjukkan kekerdilan diri karena tidak mau diam. Mulut nyerocos, semakin banyak bicara semakin terkuak aib aib kita yang sudah ALLAH tutupi, kita buka lebar lebar, atau bicara tapi tidak nyambung antara keinginan hati dan paparan mulut. Berbuih-buih sudah mulut berkoar isinya dusta, akhirnya kebohongannya terkuak dan sulit ditambal jika sudah terkuak… aib tersebur dan kemulian saya sebagai manusia terkikis.
Itu karena saya dan manusia lain kurang merenung, kurang “diam“. Saya jadi ingat pesan guru mengaji saya jika terus bicara maka hati tak lagi peka mendengar “suara” orang lain karena tersumbat oleh suara sendiri
![]()
Karena bila saya tak mampu memahami masalah sendiri dengan dalam, bagaimana bisa memahami orang lain? Maka, yang muncul kemudian adalah menyalahkan, menyikut, mempermalukan, membodohi, dan menipu orang lain. Saya jadi licik, “Oleh karena itu, yang penting bagi saya, kerjakanlah apa-apa yang baik bagi saya dan bukan yang baik menurut mereka, sembari saya serahkan jiwa raga saya pada ALLAH” ini juga ada ditulisan Jatiswara Kawedar “Manusia itu sesungguhnya adalah gurunya sendiri; di dalam dirinya sendiri terdapat rahasia keberadaannya.”
Ketika saya mencela dan menghakimi seseorang: mengapa repot-repot mencela dan menghakimi? Bukankah setiap perbuatan adalah tanggung jawab saya sendiri dan saya tidak harus bertanggung jawab terhadap perbuatan orang lain? Daripada membuang-buang tenaga untuk mencela dan menghakimi, menuding ke sana kemari, mengapa tidak duduk diam dalam hening, mengamati napas dan kesejatian saya, untuk memupuk kebajikan dan kebijaksanaan dalam diri
Lidah adalah salah satu kenikmatan yang besar yang dianugerahkan ALLAH kepada manusia, padanya terdapat kebaikan yang banyak dan kemanfaatan yang luas bagi siapa yang menjaganya dengan baik dan bahaya yang besar bagi siapa yang meremehkannya (membiarkannya) lalu digunakannya pada jalan atau tempat yang tidak semestinya.
Iya, ketajaman lidah mengalahkan ketajaman pedang yang mampu membelah besi dan daya penghancur (rusak)nya sangat kuat mengalahkan cuka dalam merusak madu yang manis,Cara menyelamatkan diri dari bahaya lidah adalah diam, Diam Itu Emas Dalam upaya mendewasakan diri saya ![]()
” Maka sekali-selai diam dan merenunglah “
Diam itu BIJAK, namun sedikit sekali orang yang melakukannya.. . mungkin termasuk saya ![]()



Menarik, sangat Menarik Artikel dan Tipsnya. boleh dicoba. salam sukses
di dunia ini tidak ada yg terkecuali, seterusnya bicara tidak baik, seterusnya diam pun tidak baik. Oleh karena itu, Allah menciptakan diam di sisi bicara, untuk kita merenung.
Nice artikel ukh
#kemudianmerenung
terimakasih dengan adanya artikel ini saya mendapat pengetahuan baru yang sangat bermanfaat di tunggu artikel berikutnya
terimakasih
mohon izin untuk meng-Copy semua tulisan yang ada di web ini.
duh maap, komen yg dibawah hapus aja de … salah paste …
mintalah fatwa pada hatimu, istafti qalbak
istafti qalbak
saat hati tersakiti rasanya ingin mengumpat, mencela, menghina..
banyak istighfar dan mengingat Allah ternyata lebih baik dan hati jadi adem
makasih mbak sharingnya
makasih dah mengingatkan saya. benar kata pribahasa diam itu emas ya ….
tugas kita saling mengingatkan bagian yang lupa
berusaha untuk diam sembari “membaca” pesan kehidupan
diam dan bicara dengan hati di serta dengan berzikir kepada-NYA..that the real permohonan yang tanpa cela nantinya di hadapan yang maha Kuasa,tidak ada kesombongan pada diri nantinya..nice artikel rindu wowww..!! Mata untuk memandang Ciptaannya..hati untuk mensyukurinya dan menyaringnya…! Salam ukhuwah sister
subhanallah….berkatalah yang baik atau diam, smoga saya bisa istiqomah menuju jalanNYA
memang benar mencari jawaban tidak harus bertanya…
“mmang utnuk menjwb suatu yg sulit unutk di selesaikan diri sndri dpt dgn berdiam dri mmhn petunjuk Allah SWT n mencba merenung untuk mendpt jawaban”
Smga di umat muslim di dunia, slalu menggnkn otak drpd otot n bnyak bcara lbh baik diam………O:)’
Subhanallah, bener banget mbak, sebenarnya jauh di dalam diri kita itu lah bersumber kebenaran melalui hati nurani kita. Insya Allah, akan banyak-banyak merenung ke dalam diri. Thanks sharingnya & salam ukhuwah ^_^
Subhanallah…bener mba Rindu, dalam diri kita lah sebenarnya kebenaran itu berasal, insya Allah sering2 merenung ke dalam diri. Salam ukhuwah selalu ^__^
no future comment… hanya ingin diam dan merenung…
Tapi kadang diam juga menyebalkan. Hahai. Diam untuk merenung mungkin menjadi sarana mengingat kesalahan. *Sotta’*
Hi Mbak Rindu … Salam kenal.
diam dan dzikir obat smua kesakitan hati……………
terimakasih…..ku atas pencerahannya. semoga kita menjadi orang yang bijak.
dan izin pasang link rss feednya.
salam
tulisan yang menggugah mba…
terima kasih
salam kenal
Ehm, kalau cinta dalam diam?
hhehe ..
Mampir ya Mbak ke Blog saya, baru pemula nih, dan saya izin mencantumkan blog Mbak di Blog saya
Semoga berkenan ..
Merci :p
Ehm, kalau cinta dalam diam?
hhehe ..
Mampir ya Mbak ke Blog saya, baru pemula nih, dan saya izin mencantumkan blog Mbak di Blog saya
Merci :p
Diam dan merenung… tafakur…
Makasih pencerahannya….sejuuuuuuuk
tulisan yg menyejukkan…
always amazing, sist..
dengan diam kita bisa berfikir lebih jernih
dengan diam emosi tidak ikut berbicara
=======
like this!
=======
sekali lagi mba ade bener banget…..
sering kali kita mendapati jawaban dari suatu permasalahan adalah dengan “diam”
diam…dan kita kembalikan semua pada Allah….tanyakan pada diri kita sendiri….kita tahu jawabannya…
kita tahu harus bagaimana….dengan diam..
amnesia kali ya, bukan insomnia
Mencoba belajar diam ah, terimakasih diingatkan
mbak, “insomnia” atw “amnesia”.. hehe
hmm.. sepakat. mmg kt bs menemukan kebenaran dlm diam.. dan kebenaran harus disampaikan (salah satunya lewat tulisan)
Sore Ade… Gimana kabarnya sekarang ? ^^
Subhanallah……diingatkan kembali oleh mbak Rindu…kadang (sering?) saya yang selalu berusaha jujur (tepatkah kata ini??) dalam tutur kata, entah itu manis, pahit atau pedas tak sadar perkataan saya menyakiti yang lain, tak sadar bukan hak saya menghakimi yang lain. Astagfirullah….
Jazakillah yaa mbak…
iya ya De, lebih baik diam daripada ucapan yang keluar tidak ada manfaatnya malah memperburuk diri sendiri di mata orang lain
=======
Seringkali dalam keheningan kita dapat menemukan ketenangan dan kebahagiaan jiwa yg sulit kita dapatkan di tengah hiruk pikuk dunia. Ketenangan dan kebahagiaan yg didamba begitu banyak orang di dunia ini. Di dalam keheningan, kita biasanya mampu untuk melihat lebih ke dalam diri kita, mengkoreksi diri. Dalam keheningan kita biasanya lebih mampu untuk mendekatkan diri kepada-NYA, Sang Pemilik Jiwa kita..
=======
diam itu sabar bukan……?
=======
Memilih diam daripada berkata yg ngga baik, adalah termasuk sabar.. menahan lidah dan mulut dari berkata yang ngga enak didengar, yang (mungkin) menyakiti hati orang lain..
=======
sesekali memang perlu diam, introspeksi diri, tapi ada kalanya kita harus bicara, terus belajar untuk menempatkan waktu kapan saatnya diam dan kapan saatnya kita harus bicara. suka banget tulisan2 mb ade
Saya jadi ingat seorang sahabat saya yang suka sekali bicara… marah ngoceh, bahagia mengumbar bahagia nya kesana kemari… lalu apa yang terjadi? dia kehilangan kemuliaan dirinya, tersumbat oleh suaranya sendiri
Yuk, belajar bijak, mulut kita adalah mulianya kita juga… semoga dengan menjaganya mulia pula disisi ALLAH, amin ya Karim.
kata bang mario, diam belum tentu emas
haduuuh
jadi bingung mbak
saat hati tersakiti rasanya ingin mengumpat, mencela, menghina..
banyak istighfar dan mengingat Allah ternyata lebih baik dan hati jadi adem
makasih mbak rindu atas pencerahannya..
Hm, ya….
bener Mbak, saya sependapat atas commentnya.
Dan buat Mba Rindu…Jazakillah khair atas sharingnya
seMOGA kita termasuk orang yang bijak >_<