
Hari ini, saya dititipkan seorang bocah centil berumur 5 tahun bernama NAYLA, ”NAY” nama panggilannya, putri dari sahabat saya, ada syurga tersendiri untuk saya bisa bermain dengan bocah secentil saya sewaktu seumur dia
menemaninya selama seharian memberi saya banyak pelajaran berharga :)
Ada yang menarik dari perempuan kecil ini, seharian yang ia mainkan adalah boneka gundul yang seperti bayi kecil yang seolah olah anaknya yang harus ia beri susu, gantikan popoknya, beri makan dan minum, meninabobokan dan membacakan buku dongeng apa saja hingga si boneka bayi itu tertidur
Ada yang lebih menarik lagi dari semua yang Nay mainkan adalah ia sibuk memainkan trolly belanjaannya seolah keluar masuk supermarket sambil menggendong boneka bayinya, kemudian Nay memasak dengan segala alat masak mainannya dan memberi makan boneka bayinya….
Subhanallah …
Ternyata, setiap manusia itu dilahirkan dengan fitranya dan nalurinya sejak kecil bahkan sejak bayi, perempuan dengan naluri keperempuanan seperti Nay yang sejak usia sedemikian kecil dengan naluri menjadi Ibu rumah tangga, menjaga anak, mendongengkan, menina bobokan dan memberi makan dan minum, kemudian memasak dan membereskan rumah, sangat MENYENTUH naluri keperempuanan saya, yang hingga saat ini belum mampu memasak, hahaha :)
Subhanallah ya ALLAH ya Nurul Qolbu [again and again], tak henti saya berguman dan takjub akan apa yang saya lihat seharian ini.
Saya jadi teringat ketika sahabat sahabat saya sempat bingung melihat tujuan hidup saya untuk menjadi Ibu rumah tangga yang bekerja dirumah sambil menjaga anak anak, atau bekerja yang bisa sambil membawa anak anak saya ketempat saya bekerja, menjadi guru atau penulis misalnya atau membuka toko one stop shoping for muslimah
dan sahabat sahabat saya bilang “kalau kaya gitu sih, gak usah kuliah S2 kali De” dan saya menjawabnya dengan senyum bahwa di jiwa saya terus berkembang bahwa Ibu yang cerdas akan menghasilkan anak anak yang cerdas, itu artinya ijazah kuliah untuk membuat anak anak cerdas bukan? gak sia sia dong :) setuju gak?
Sekali lagi, ini SEMATA MATA PEMIKIRAN SAYA SAJA yah [takut diprotes para perempuan di era global nih
]
Saya selalu terpikir bahwa kantor itu bukan tempatnya perempuan, bukan tempatnya seorang Ibu, dengan berbagai alasan misalnya “anak akan mandiri jika Ibu bekerja De”, apa tega anak umur 0-10 tahun harus mandiri? apakah mendidik mereka untuk mandiri dengan meninggalkan mereka? saya sering melihat anak anak yang dititipkan kepada si nenek atau nenek mertua, koq tega yah? bukankah orang tua kita harusnya menikmati saat saat indah bersama cucu di akhir pekan, jadi bukan dibebankan untuk mengganti popok, mengejar ngejar si kecil yang tak mau makan? ya ALLAH … Ibu sudah lelah, janganlah dibebani dengan hal yang melelahkan ini
sudah lelah mengurus kita sewaktu kita kecil bukan? dan kini kita lelahkan tubuh keriputnya dengan urusan anak anak kita… mau nangis rasanya saya.
Sewaktu saya seumur Nay, saya sangat menginginkan seorang Ibu yang dengan tangan lembutnya akan membelai kepala saya setiap kali saya membutuhkan cinta, menyambut dipintu setiap kali saya pulang sekolah dengan senyum yang termanis didunia, dengan pelukan terhangat diatas bumi ALLAH ini, kemudian menemani saya makan sambil mendengarkan celoteh saya menceritakan isi dunia kecil saya dan kemudian menemani saya bobo sambil bersenandung atau membacakan dongeng dongeng hingga saya terlelap dibobo di pelukan Ibu …. dan ketika saya bangun maka Ibu lah yang pertama kali akan saya cari.
ya ALLAH titp salam untuk Ibu di syurgaMU
![]()
Lalu ketika untuk alasan sudah sekolah tinggi tinggi masa cuma jadi Ibu rumah tangga De, tegakah saya melepas semua keindahan dunia sebagai Ibu, melihat mulut mungil yang kekenyangan karena makanan yang mereka lahap dari tangan lembut saya, adalah syurga dibanding promosi sebagai manager dikantor yang hanya membuat bangga bos saya, mana lebih berharga? melihat kaki kaki kecil menggeliat menginjak bumi karena saya yang menuntunnya untuk melangkah mungkin adalah imbalan yang pas atas jerih payah saya sewaktu sekolah dulu? apa gaji puluhan juta lebih indah dari kaki kaki kecil ini?
Ah … mungkin rasa ini hanya berlaku untuk perempuan perempuan seperti saya yang tidak dibesarkan oleh seorang Ibu yang melahirkan saya
mungkin ini hanya untuk perempuan yang cara pandangnya sesederhana saya, menjadi Ibu, karena menurut saya menjadi perempuan itu sangat mudah loh, semua tinggal minta sama suami, kebutuhan jasmani kan tinggal minta sama suami, apalagi kebutuhan batin pasti dikasih lah gak perlu minta
oopppsss !!!
Dan, saya menghayal seandainya semua perempuan berada dirumah mungkin global warming bisa berkurang karena mobil berkurang dijalan, dan perempuan bisa bertaman dirumah
dan para lelaki sekarang katanya lebih suka istrinya bekerja jadi selevel gitu, emang menjadi Ibu beda level dengan menjadi Ayah yah
Bukankah di AlQuran memang tugas lelaki dan perempuan itu berbeda, atau kita sudah berani bilang AlQuran gak up to date lagi tuh di zaman sekarang atau, atau imam dalam rumah tangga telah diambil oleh perempuan sehingga laki laki takut meminta istrinya untuk dirumah bersama para buah hati, berarti gagal dong amanah ALLAH untuk menjadi imam bagi sang suami bukan?
Bukankah tanggung jawab ini akan dihisab di akhirat nanti? dan kita diamkan hanya karena takut istrinya lari ke pengadilan agama karena gak boleh kerja? lebih takut mana sama azab ALLAH, atau jangan jangan perempuan udah jadi berhala yang disembah para lelaki? atau akhirat bukan lagi tujuan berumah tangga… *sok tahu nih Ade*
Nauzubilahimindzalik !!
Ah sudahlah, Saya mau main dengan Nay lagi, belajar lagi dari dunia kecilnya yang indah :)
*catatan: saya minta maaf untuk para perempuan bekerja, sekali lagi ini hanya khayalan saya, opini pribadi saya dan pasti BANYAK yang gak setujua, I KNOW
maaf jika ada yang salah dari ucapan saya, tentang perempuan yah, ini refleksi dari NAY dan saya sewaktu kecil, just it is
no more no less, gak ada maksud menggurui*
85 Komentar
Pertamax diblog sendiri …
Kebun sudah bersih saya sapu, bunga baru sudah saya tanam di sudut dekat kolam ikan yang penuh ikan warna merah dan kuning.
Alhamdulillah … mumpung sepi, duduk dikursi panjang kebun hikmah, ambil gitar dan bernyanyi bersama alam
sambil nunggu sms or call, kali aja ada yang RINDU
hahahaha.
*bekep mulut mungil sendiri, gak boleh berharap lebih De*
ups..pertamax
sebetulnya sy punya pikiran seperti ini, tp entar di protes 

jd biar sesama perempuan aja yg ngomong
ttg NAY bikin nelangsa aje
hehe..pertamax dikebun sendiri
Salam…
Aku hanya ingin menyapa, selagi aku bisa. aku hanya ingin berbuat, selagi sempat. aku hanya ingin merajut, selagi belum lanjut. aku hanya ingin berujar, selagi belum samar.
hayalan yang indah itu telah melupakanku untuk memeluk mimpi. mimpi menjadi seorang bapak yang bijak suatu kelak, menjadi bapak yang arif dimata Syarif. Mimpi menjadi seorang anak dengan tawa Nayla kecil yang centil.
Kaulah perempuan yang sekali ingin aku katakan, untukmu setengah dimataku.
“maaf nGlantur…
“semoga ada cinta untukku Mama…
women is women, please …
semuanya merupakan pilihan,, perempuan pasti bisa menentukan mana yang terbaik..
Di kelompok bermain “kebun hikmah”, Nay dan kawan-kawan belajar bernyanyi, menari dan melompat. Dan saat istirahat, “ayo semua kumpul!” bu guru memanggil. Semua duduk rapi.
“Cape tidak?”,
“Tidak bu guru?”, wah semangatnya anak-anak, kalau urusan bermain memang mereka jagonya, tidak ada lelahnya. (Bu guru kalah deh tenaganya, “tetap tersenyum bu”)
Sambil memakan bekal yang dibawa, teman Nay nyeletuk, “bu guru, mamah dan ayah kalo pagi pergi naek motor, nyari ‘encis’ buat beli susu”.
“Pasti mamah dan ayah sayang kamu Didi”, sahut bu guru.
“Anak-anak kalau sudah selesai, yuk kita berdoa bersama”
Bis mil llah hir Roh ma nir Rahimm
“Ya Allah, segala puji bagi Engkau yang merezekikan kami makanan ini, tambahkan kebaikan bagi kami di dunia dan diakhirat nanti, dan ya allah ampuni kedua orang tua kami, sayangilah mereka”
al ham du li llah hi rob bil al laminnnn
mbak ade
blajar masak bareng yuk mbak ..
hhehehe ..
Mba Rindu, aku memiliki buah hati yang baru beranjak 4 bulan, Afif Azmi Wiratmoko namanya…
Ayah dan Bunda nya Afif bekerja, jdi Afif di Asuh oleh kakak ipar saya serta di pantau Mbah Uti dan Mbah Kung nya, namun setiap sabtu minggu pasti waktu Ayah sama Bundanya Full untuk Afif….
Afif itu lucu, manis dan Cerdas mba….
Mohon Doanya semoga Afif Jadi Anak yang Sholeh… Amin….
pilihan yang terbaik adalah pilihan yang tepat menurut Allah…
Jika kita memandang dengan iman dan islam..aku setuju banget dengan angan2 Ade. Hanya terkadang sebagai seorang calon imam RT, ada rasa keraguan bisa ga..bisa ga..menjadi single player bagi RT kita..
Assalamu’alaikum mba Ade….
tersentuh banget dgn tulisan mba Ade…
Kasih ibu adalah salah satu pondasi dari rumah kebahagiaan. Hampir setiap orang termasuk saya menempatkan kebahagiaan keluarga sebagai ukuran kebahagiaan sebenarnya..
Dari keluarga yang bahagia, sejatinya akan terlahir pola pribadi yg bahagia…dan Peran Perempuan sebagai Ibu sangat besar dalam pembinaan anak anaknya.
Keberhasilannya membina anak anaknya menjadi pribadi muslim yg unggul akan menjadi pilar lahirnya masyarakat yang baik…
Assalamu’alaikum Mbak Meutia
Menurut saya sebagian besar perempuan yang bekerja bukan karena keinginannya tetapi karena keharusan untuk menutupi biaya hidup yang tidak cukup mengandalkan dari ayah ataupun suami yang bekerja.(ini sepertinya hanya terjadi di perkotaan ya imam…? sebagian besar iya, tetapi di desa pun juga ada seperti ibu yang pergi berdagang ke pasar)
Mari kita doakan agar para SUAMI dan AYAH diberikan kecukupan rejeki bagi keluarganya oleh yang MAHA KAYA sang pemilik langit, bumi dan seisinya, agar tidak ada lagi Ibu, Istri, ataupun anak perempuan yang bekerja di luar rumah. Amin Ya Robbal Alamin.
ku berharap akan tiba waktunya bagi para wanita menjadikan RUMAH sebagai ISTANAnya dan ia menjadi RATU di ISTANAnya sendiri. Amin Ya ALLAH
Semoga ALLAH mengabulkan doa kita semua.
Wassalamu’alaikum
@Rindu: dititip disaya yah suatu hari nanti, mau belajar dari Afif, nanti kalo rejekinya sudah berlimpah, Bunda suruh kembali kerumah ya mas, kasihan Afif tidak besar ditangan Bunda… saya soalnya merasakan besar ditangan tante, om, kakek, nenek dan bukan itu yang saya inginkan kalo boleh protes
InsyaAllah bisa seperti yang mba saran khan…..
hm… mba, doanya kok lum di aminin
banyak kekejian di dunia ini, yg mungkin salah satu penyebabnya adalah banyaknya perempuan berkeliaran dgn liar di luar rumahnya..
_salam anget_
untuk posting ini aku ga bs komen banyak hanya setiap manusia itu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya.
dan kepemimpinan seorang laki2 dan perempuan berbeda, laki2 adalah memimpin seluruh isi rumah, perempuan memimpin anak2nya, ukhti lebih tahu dari pada joko, assalamu’alaikum buat ukhti dan may ( barokallahufiikum )
Tugas wanita (isteri) yang pertama dan utama yang tidak diperselisihkan lagi adalah mendidik generasi-generasi baru dan peran wanita ini tidak bisa digantikan oleh laki-laki. Tugas ini memang begitu berat karena menyangkut kepada masa depan umat tetapi Allah telah menyiapkan kaum wanita agar dapat melakukannya.
Sebuah syair terjemahan dari penyair Hafizh Ibrahim asal Mesir:
Sedangkan untuk wanita bekerja menurut Syekh Qardhawi hukumnya adalah jaiz (boleh), yang bahkan bisa menjadi Sunnah atau Wajib pada kondisi-kondisi tertentu.
Jika memang ada di antara kaum wanita pembaca blog ini seorang isteri pekerja maka tidak perlu berkecil hati, karena anda pun tetap akan dapat meraih rahmat dan ridho Allah walaupun mesti membagi waktu antara bekerja dan mengurus rumah tangga.
1. Niatkan langkah kaki anda ketika pergi bekerja untuk mencari ridho Allah.
2. Tanamkan di dalam pikiran bahwa meskipun anda bekerja, tapi kewajiban terhadap suami dan anak tetap yang pertama dan yang utama.
3. Camkan di dalam pikiran bahwa anda bekerja untuk ‘membantu’ suami. Tidak perlu memaksakan secara berlebihan baik secara fisik dan pikiran atas pekerjaan yang dilakukan.
4. Tetap menjaga diri dan kehormatan ketika melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk pergi bekerja.
Rindu.. saya 100% sependapat denganmu. wanita takdirnya di rumah. Perempuan yang sholehan dan pintar adalah permata berharga dalam keluarga, modal terbesar dari seorang suami dan investasi yang tak akan pernah berhenti dipanen oleh masyarakat.
(Ehmm.. ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku rindu, tentang panggilan jiwa.. ya.. bagaimana jawaban tentang “seorang perempuan yang panggilan jiwanya menjadi “orang-orang” yang berada di “luaran”..bukan orang-orang “rumahan”? Apakah ia harus “mematikan” panggilan jiwanya.. sedangkan masyarakat membutuhkan dakwahnya??? Ya.. tidak semua perempuan seberuntung istri panglima perang di jaman Nabi, beliau dapat menuangkan panggilan jiwanya, menjadi pengatur strategi perang, karena sang suami mau mendengarkan ide-idenya dan melaksanakan di medan perang. (terbukti dengan ide-idenya peperangan dapat dimenangkan). Ya Rindu saya belum menemukan jawabannya.. walau saya sering banyak bertanya pada ustadz dan ustadzah…
@ Rindu
Memilih antara bekerja maupun tidak bekerja untuk beberapa wanita memang merupakan sebuah pilihan. Idealnya memang wanita (isteri) hanya mengurus rumah tangga saja tapi kondisi kehidupan ini tidak semuanya bisa berlangsung seideal seperti apa yang kita harapkan.
Sepasang suami isteri dengan tiga orang anak yang sedang bersekolah tiba-tiba diterpa musibah. Perusahaan tempat suaminya bekerja mengadakan perampingan (PHK) dan suaminya termasuk di dalamnya. Rumah tangga mereka mengalami cobaan karena anak-anak mereka masih membutuhkan biaya pendidikan sedangkan mereka tidak memiliki penghasilan lain karena sang Bapak sudah tidak bekerja lagi. Meskipun sang Bapak sudah mencoba memasukkan lowongan pekerjaan di perusahaan lain tetapi tetap saja belum diterima bekerja. Sang istri tentu tidak bisa berdiam diri saja, meskipun sejak menikah dia sudah berhenti bekerja tapi dia masih punya ijazah kursus menjahit dan dengan modal itu dia melamar ke sebuah pabrik konveksi. Tak lama kemudian istrinya diterima bekerja sedangkan sang suami masih belum mendapatkan pekerjaan baru.
Ilustrasi cerita di atas adalah gambaran bahwa terkadang ‘pilihan’ untuk bekerja itu memang harus dilakukan oleh sebagian kaum wanita.
Pekerjaan yang banyak dilakukan oleh kaum wanita bukan hanya bagi mereka yang bekerja di kantor, kalau ke Tangerang kita bisa lihat para buruh pabrik wanita dengan upah yang kecil rela untuk berdiri seharian dalam pekerjaannya seperti memasang kancing baju atau lain-lain, dan itu mereka lakukan guna menambah penghasilan keluarga karena umumnya suami mereka juga sama-sama buruh pabrik yang penghasilannya hanya sebesar UMR (sekitar 1 jt/bulan). Dan penghasilan 1 jt/bulan apakah ideal dalam kehidupan sekarang ini?
Dan oleh sebab itulah secara syara, Syekh Yusuf Qardhawi menyebutkan hukumnya wanita bekerja itu jaiz (boleh), dan bisa menjadi Sunnah atau juga Wajib menurut kondisi-kondisi tertentu.
Perempuan, Kembalilah Kerumah
* Juli 1, 2009 – 11:14 pm
* Ditulis dalam Kata tanpa makna
Nayla
Hari ini, saya dititipkan seorang bocah centil berumur 5 tahun bernama NAYLA, ”NAY” nama panggilannya, putri dari sahabat saya, ada syurga tersendiri untuk saya bisa bermain dengan bocah secentil saya sewaktu seumur dia
menemaninya selama seharian memberi saya banyak pelajaran berharga
Ada yang menarik dari perempuan kecil ini, seharian yang ia mainkan adalah boneka gudul yang seperti bayi kecil yang seolah olah anaknya yang harus ia beri susu, gantikan popoknya, beri makan dan minum, meninabobokan dan membacakan buku dongeng apa saja hingga si boneka bayi itu tertidur
Ada yang lebih menarik lagi dari semua yang Nay mainkan adalah ia sibuk memainkan trolly belanjaannya seolah keluar masuk supermarket sambil menggendong boneka bayinya, kemudian Nay memasak dengan segala alat masak mainannya dan memberi makan boneka bayinya….
ade nya imut banget..persis pemilik kebun ini hihih
buat saya perempuan tetaplah sejatinya seorang wanita yang harus dicintai dan dilindungi apapun dia kondisinya
Assalamualikum,
De…kali ini gak ada yang bisa aku haturkan cuma sebuah doa saja sebagai rasa setuju dan terimakasih atas tulisanmu tentang IBU kali ini, kalau (andai saja)boleh bersujud (oleh ALLAH) selain kepada Allah didunia ini maka aku akan bersujud dikaki IBU sebagai haturan rasa syukur kepada Allah dan terimakasih tiada tara dan hingga:
” Allahu Robbi, Tuhanku yang maha pengasih dan penyayang, Engkaulah sumber segala cinta yang kami rasa, dengan segala kehinaan aku sebagai hambaMu maka aku meminta untuk saudaraku, karena Engkau menyuruh aku untuk meminta hanya pada Mu.”
“Allahu Robbi, Maha raja ku yang Maha Pengasih aku mohon dengan segala cinta dan kasih sayang yang telah Engkau tunjukan pada Ku maka limpahkanlah kembali pada saudara ku RINDU dengan limpahan rahmad, kasih sayang dan cinta Mu yang abadi.”
“Allahu Robbi, dengan rahmad kasih sayang Mu aku memohon tuntunlah selalu saudaraku RINDU dalam bimbinganmu, anugerahkan kepada saudaraku karunia rezeki Mu yang melimpah ruah dan menjadi barokah bukan hanya bagi RINDU tapi juga bagi semua mahkluk Mu melalui tangan saudaraku RINDU, anugerahkanlah kepada saudaraku RINDU seorang suami yang tulus mencintai saudaraku RINDU karena cinta MU bukan karena RINDU sendiri, anugerahkanlah kepada saudaraku RINDU seorang suami yang dapat menjadi seorang IMAM yang hanif bagi RINDU dan anak-anak nya kelak sehingga dapat membawa mereka meraih tiket Jannah Mu kelak.”
“Allahu Rabbi, Tuhanku yang selalu menjaga diriku, aku mohon dengan keperkasaan Mu jagalah diri saudaraku RINDU dalam keperkasaan Mu dari marabahaya ahli fitnah didunia, dan dengan kelembutan MU maka jagalag hati dan Jiwa saudaraku RINDU tetap istiqomah dijalan MU”
Ridhoi perjuangan dan perjalanan kami dalam menegakan kembali Qur’an dan Sunnah kekasih MU Rosul akhir zaman Muhammad saw.
Robanna fidunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah, waqinah adzabanar.
ade, mimpiku adalah menjadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan Ais dgn cinta, yg tinggal di rumah dan keluar hanya mengantar anak sekolah…
tp kenyataannya?takdir yg tengah Allah titipkan utk saya adlh menjadi ibu yg HARUS bekerja meninggalkan permata hati saya satu2nya dirumah..bersama nenek & kakeknya..*semoga Allah merahmati mama dan papa yang lagi2 hrs berkorban utk saya*
de, mas Jafar benar, kadang mjd ibu yang bekerja bukan lagi pilihan, namun keharusan…dan bukan berarti kami bermaksud “menelantarkan” anak ataupun mengurangi kasihsayang kami..sekali2 tidak…Allah Maha Tahu betapa keras kami berusaha melimpahkan semua perhatian & kasihsayang di waktu2 kami yg “sedikit” itu…
Semoga Allah masih memberikan saya kesempatan menjadi ibu spt yg saya impikan..aamiin..
take care sist…
saya rindu ma tulisan rindu, tp bingung mo calling k mana… ups… jaga hati yo!!!/*ups kena marah pak ustad*/
Moga jodoh saya dan teman2 seperti yg tergambar di atas, ga harus S2(klo pun S2 ga nolak) yg terpenting cerdas dalam mendidik anak dan keluarga… amiin
Saya setuju mbak Rindu, perempuan yang bekerja di luar, selama imamnya sudah mencukupi, akan lebih banyak madhorotnya. Alhamdulillah selama 8 tahun ini aku membina RT, istri di rumah dengan 4 anyakku, mereka jadi keurus dan mudah diarahkan semuanya.
Btw, aku lupa masa kecilku bu.
Rindu, bang Jafar katakan memang benar, terkadang cerita kehidupan sebuaha keluarga bergulir di rel yang terjal, sehingga kadangkala perang seorang ayah dalam mencari nafkah harus ditunjang oleh istrinya.
aku masih ingat betapa pengorbanan ibunda saya dahulu saat aku masih kecil, saat bapak dulu sempat sakit dan dirawat di rumah sakit, betapa ibu rela keliling kampung berjualan telur ayam demi menopang kehidupan kami.
memang keadaan ideal seorang istri adalah tanggung jawab terbesarnya adalah mendidik anak, namun terkadang roda nasib bicara lain, menurut saya bila kondisi yang dialami oleh ibunda saya dahulu mungkin nilai pahala yang diberikan oleh Allah bisa senilai JIHAD di medan perang, bahkan lebih.
Bila seorang suami bekerja dan pulang membawa nafkah untuk keluarganya saja oleh Allah itu dinilai senilai pahala Jihad, maka bila itu dilakukan oleh seorang istri demi membela kehormatan dan keberadaan hidup keluarganya maka saya rasa hal itu lebih besar nilainya.
namun hal itu akan lain nilainya bila seorang istri lebih memilih bekerja diluar (memaksa) untuk menjadi wanita karir daripada mengurusi keluarganya (terutama anaknya) maka itulah awal mulai celakanya sebuah keluarga.
Budaya Barat yang buruk menghembuskan angin modernisasi, wanita-wanita dihembuskan suara untuk meminta kesetaraan (bahkan lebih) dibanding lelaki (baca: suami), padahal menurut Al Quran nilai seorang suami selalu lebih dari istri karena seorang suamu (harusnya) selalu dapat menjadi IMAM dan Pelindung bagi istri dan anak-anak mereka.
Islam sejak dahulu kala telah memuliakan wanita, lalu yang mana lagi akan dituntut oleh arus modernisasi saat ini untuk dituntut lebih? apakah itu bukan sama saja dengan menuntut hawa nafsu belaka, celaka, sungguh celaka mereka yang menjadikan hawa nafsunya menjadi TUHAN nya.
selamat sore sahabatku nyang terbaik
blue selalu menghargai u selalu menjadi wanita yg mendekati kesempurnaannya sang hati dan jiwa yang bersih
salam hangat selalu
perempuan sangat bersahaja dan apabila selalu menjalankan perintahNya…salam D3pd ^_^ V
betapa Allah Maha besar
Setuju perempuan lebih baik dan lebih mulia di rumah mendidik anak-anak generasi penerus masa depan…
mbak rindu bisa main gitar ya ??
De,
saya seperti melihat sosok Rabiah Adawiyah yang memutuskan untuk hanya mencintai-Nya dan tidak memberi peluang seorang lelaki pun hadir dalam hatinya. Ah, saya tidak setuju Ade mengikuti jejak Rabiah. Betapapun, menikah adalah sunnah yang dicontohkan Rasul, kekasih Allah tercinta. Menjadi ibu, mengasuh anak, menemani suami adalah tugas hebat yang sayang sekali untuk dilewatkan.
Semoga sang imam itu kelak akan Allah kirimkan untukmu, De.
ehm… cara pandang emansipasi wanita dari sudut yang berbeda
Saya mengerti beratnya melepas sesuatu yang sudah dalam genggaman, sungguh terasa menyakitkan, dan obatnya hanya satu ikhlas, ikhlas, dan ikhlas(katanya satu imam,kok malah tiga yang disebut), moga ALLAH menguatkan hatimu mengarungi cobaan ini.
ALLAH sudah kasih info bahwa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, maka janganlah bersedih dan takut untuk bermimpi kembali, karena bang Nicholas Saputra pasti sedang menunggu mbak apakah di dunia ini atau nanti di surgaNYA kelak (kok bang Nicholas disebut-sebut sih imam? itukan cuma perumpamaan dan pastinya ALLAH akan berikan mimpi yang terindah untuk mbak) , mimpi itu hanya bisa dibayar dengan kesabaran dan istiqomah di jalanNYA.
komentarnya sok tau nih imam….
Nay sepantar Zemima anak sy,semalam saat membaca tulisan ini membuat sy menjadi sedih,raut muka Zemima bermain dipelupuk mata sy.Kontan ini membuat sy jd gak bisa tidur.
Konyolnya tanpa sy sadari ini membuat dia jatuh sakit, pas besoknya sy telp (dgn suara serak) dia bilang “pa Emi mau sama papa..” hmm..(ada sesuatu dlm dada ini yg terasa sangat sakit,ketika mendengar suara kecilnya)sy pancing dia cerita,setelah kurang lebih 30 menit kami ngobrol dia sudah terdengar ceria lg..Alhamdulillah, dan dia mau makan lg,mau minum susu lg..Alhamdulillah ya Allah.
Maaf yah,sy jadi curhat nih
Tulisanmu dahsyat banget..
mungkin perlu ada gerakan “perempuan kembali ke rumah ” mbak rindu,untuk mengabdi dan memberi kasih sayang kepada suami dan anak-anak nya .
Wooooow.. mbaaaak makin mantaaaaabs surantaaaaaabs
Salam Sayang
Nay? salam kenal Non.
Sejak kecil sudah ditinggal Ibu? Insya Allah Ibumu bahagia mempunyai putri yang shalehah sepertimu
Cepet pinter masak ya!
Salam & sukses!
Andai..para wanita mau menurunkan egonya..mengikuti kodratnya, mau mengenali dirinya sendiri,mau mengenali Tuhannya.Mau memahami esensi tulisan Rindu ini..
Maka anak-anak, tidak harus kesepian,tidak harus merintih.Anak-anak tidak butuh hanya sekedar materi,mereka butuh sentuhan,butuh belaian,butuh kasih sayang,butuh cinta seorang ibu.
Taman bermain yang dibangun dirumahmu, tidak akan banyak membantu..jika itu dibangun dengan keegoisan.
Tempatkan hadits “Surga dibawah telapak kaki ibu” pd proporsi yg benar.Bukan dijadikan tameng untuk menguasai anak-anaknya.Ya Allah..banyak orang yg berilmu..tetapi tidak mengerti hakikat ilmu itu sendiri.
Padahal ilmuMu,telah Engkau beri dalam diri kami masing-masing.Beri kami kemampuan mengenali diri kami agar kami bisa lebih memahamiMU ya Rabb.
Maaf ya De..tulisannya jd negalantur
*dalam derain air bening*
Al-Quran itu tidak pernah ketinggalan zaman justru Alquran itulah yang menjaga zaman
btw utk masalah google adsenses, itu insyaAllah halal mba karena kedua belah pihak tidak ada yg merasa di rugikan dan di dalamnya terdapat power sharing dimana advertise yg tampil akan sesuai dengan isi dari blog anda jd saling menguntungkan(blog bisa jadi ajang promosi usaha), ingat mba..Islam itu mengajarkan kita utk saling membantu dan berlomba dalam kebaikan
Saya setuju dengan pendapat mbak,…. namun alangkah lengkapnya jika wanita mampu memerankan peranannya dengan baik
Mmm…anak yang cantik dan manis
@ dodi
eh..kok larinya ke adsense sih
btw sy setuju dengan dodi, Insya Allah halal,ini semacam bisnis periklanan kok,kalo kt menyewakan space utk iklan.. why not
=======
Nay cantik.. pipinya merah gitu
Btw, cepat belajar masak sama si mbok De.. supaya suaminya nanti betah di rumah n makin sayang..
=======
ah, tante saya s2 juga membesarkan anak dirumah koq mbak^_^’
kasihan juga kalo perempuan ‘banyak’ yang kerja, ntar laki2nya pengangguran n susah menafkahi keluarga.hihi
hoho..semangat rontok? sabar2 mbak, ayo semangat lagi mbak, buruan wisuda, haha..ntar tak ke depok deh minjem toga nya..
moga Allah ketemukan Ade jodohnya lelaki yang bertanggungjawab,sebenarnya semua wanita yang beriman itu inginnya menetap di rumah, namun….kiranya alam rtgga itu x selalunya indah De……
ada insan solehah ttp jodohnya lelaki yg tidak pernah tahu erti tjawab….
salut aku ama mbak rindu,
emang pendidikan sang bunda membantu menunjang perkembangan si buah hati, tapi menagapa masih banyak wanita yang egois akan ketinggian pendidikannya hanya tau cara memenuhi kebutuhan anak dengan mengengedepankan status sosialnya dimasyarakat. Apakah mbak rindu mempunyai pola pikir seperti itu terhadap sang buah hati dari warisan orangtua, pendidikan formal, bimbingan sang suami atau yang lainnya.
Semoga pandangan mbak rindu ini dapat mendorong istiku tercinta dalam mengasuh anak2 ku, menuju mimpi2 orang tuanya, Amiiiin
imut juga… pasti seimut ibunya..
Hhmm….Begitu ya Mbak….
Sangat baik sekali jika seorang isteri di rumah atas kehendaknya sendiri….
Jadi tidak ada yang merasa dirugikan dan merugikan bukan…
Salam semangat Bocahbancar…….
De…, lihat foto nay aku jd ingat ponakan “shifa” yg skrg dah 1bln tgl bersama ibuny cz ibuny cuti melahirkan. Ak jd kangen shifa sl dari bayi dia tinggal di rumahku d urus ibuku sl ortuny pd kerja.
Aku spendapat dgn ade insaallah nanti lw aku pnya anak aku kan rawat sendiri n ga bakalan d titip2 wlpn ke nenekny. Sl ak sering sedih lw lihat shifa nangis pingin ikut ortuny kerja n lihat pengalaman yg terjadi di sekitarku. Menurutku kebersamaan bersama anak2 sangat menyenangkan n alhamdulilah lewat kesukaanku pd anak2 kini telah aku salurkan, yaitu dgn mendirikan PAUD Nurul iman yg sy kelola. Lw ade pingin lihat altivitas anak2 saya bisa d lihat d http://www.paudnuruliman.wordpress.com
huwaa…. baru k sini lagi. ternyata sekarang RINDU sudah memoderasi blog. sip2.
owh iya, aq seneng nulis de. n bisa dapat inspirasi dr mana aja. aq gi nulis buku dan ngambil satu sosok tokoh cerita yang terinspirasi darimu. hehehe. ni linknya http://ivanbatara.wordpress.com/2009/05/07/prolog-wanita-embun-pagi/
jangan minta royalti ya kl bukunya ntar booming. hahaha. cayyoo nuliss ^_^
1. anakku namanya nayla
2. kasian emang sering dititip-titipin
3. andai mamanya mau kusuruh berenti kerja
4. mamaku sendiri provokator supaya istriku kerja
5. it sucks!
saya percaya betul bahwa mendidik generasi tidak sekedar tanggunjawab ibu, tapi jg ayah..
saya yakin betul, bahwa masa golden age yang terbaik adalah anak banyak bersama ortunya..
saya sendiri salut betul kalau ada perempuan yang bisa menjadi IRT full..tapi apa ini keharusan?
beberapa perempuan butuh ruang lain untuk aktualisasi, karena bekerja bukan semata masalah uang..ada lho malah yang dipaksakan jd IRT full malah ndak nyaman dan justru jadi tidak sehat, kesian anaknya jg kan? nah berikutnya adalah masalah hati nurani, sejauh mana mampu memagari diri sehingga anak tidak terbengkalai, atau selama aktualisasi, anak jg harus tetap mendapatkan lingkungan yang kondusif..seperti dititipkan di mbak ade misalnya?
@ eoin..maaf yah,mungkin sy melihatnya agak berbeda.Tapi benar kata Rindu “istigfar dan ikhtiar”.Persoalannya kadang menjadi imam tidak sesederhana seperti yg terlihat.Maaf yah,Rindu sangat brilian mengulas dari sudut pandang Rindu ttg wanita berbekal jalan hidup Rindu yg minus dr sisi ini(tp inilah ilmu yg diperlihatkan Allah melalui seorang Rindu,so..ini karunia yg harus disyukuri/bukti bahwa Allah memang mencintai Rindu).Tapi kalau berbicara mengenai imam mungkin Allah jg memberi kesempatan kepada hambaNya yg lain,sesuai kapasitas dan pengalamannya.
Menjadi Imam dalam keluarga/rumah tangga,berbeda dgn menjadi imam di tingkat RT/RW.Persoalannya pendekatan menjadi imam dalam keluarga “suka tdk suka” hati harus lebih dikedepankan.Jadi persoalannya tidak pada tegas atau tidaknya seorang imam dalam hal ini.Ada banyak hal rumit yg terlibat disini,yg tentu saja bisa dibuat sederhana, ttp bagaimana kalau seluruh makmum didalamnya justru “meng-sabotase?”..sabotase yg bukan berlandaskan kodrat(pendekatan agama) tapi berdasarkan kepentingan?..
Mungkin ikhtiar Nabi Nuh,dalam mengambil keputusan saat Beliau memutuskan berlayar akan lebih mengena dalam pendekatan imam dalam “persoalan ini”.
Ujungnya sy setuju dgn Rindu kembalikan segalahnya kepada Allah.
iya mbak, urusin skripsinya atuhh
Istri bekerja karena kebutuhan eksistensi, meskipun pendapatan suami sudah mencukupi. Secara personal saya berpikir bahwa menentukan prioritas mana yang penting dan mana yang mendesak adalah penjelasan dari pilihan menjadi FTM (Full Time Mother) atau ibu berkarir.
Mau jadi wanita pekerja.. boleh aja, asal tetap ingat kodratnya sbg wanita, ada anak, ada keluarga dan jg ada suami yg pasti memerlukan peran seorang wanita.
Mau jadi wanita yg mencurahkan seluruh atau sebagian waktu untuk anak/keluarga dengan menjadi wanita “rumahan”… juga boleh
Semua itu adalah pilihan bagi wanita, lebih suka pake kata wanita drpd perempuan..kayaknya lebih bgm gitu…
dan semua pilihan punya konsekuensi masing2, baik untuk urusan di dunia atau urusan di akhirat nantinya
Postingan yg menarik..
Jadi membayangkan…. Nisa jadi Ibu rumah tangga…
^_^
mba ade ,…
tiba-tiba jd berpikir kenapa nggak da kuliah jurusan “ibu rumah tangga” yak
klo dipikir2, mungkin bnyak yang terlalu menyepelekan pekerjaan yang satu ini, pdahal.. urusan diluar bisa repot klo rumah tangga gak terurus
@ afwan auliyar “urusan diluar bisa repot klo rumah tangga gak terurus”..ini dia Bro
*intinya*
Kalo misal,Ente atau ane..bekerja jd sopir angkot.Trus nyetir dengan kepala yg “tuing..tuing..” mikirin setoran..mikirin istri “manyun” sambil bertolak pinggang “ngapain aja lo kok gak bawa pulang duit?!”.. padahal nih kepala lg babak belur,habis digebukin orang,karena nyenggol mobil orang
apes..apes..nyari anduk basah untuk konpres kepala..eh gak nyadar kalo dipake buat kompres malah kain pel basah..ampun dah
Coba kalo dibalik,” Rumahku istanaku”..sambil bersiul-siul nyetir nih kite..dapat duit seribu..duaribu,Alhamdulillah..trus narik lagi dengan “tanpa beban” Alhamdulillah..Alhamdulillah terus..apa gak penuh juga tuh duit dikantong?…biar kate ngelawatin warung “remang-remang”…pasti deh yg muncul duluan tuh Alhamd…eh Astagfirullah
.. pasti deh yg kepikiran pengin balik cepat kerumah..karena sudah berapa jam belum cium kening istri
setuju gak Bro
Rindu,sorry yah biar tambah rame aja
pada dasarnya mmg sebaiknya perempuan ada di rumah, tp itu tergantung dr masing2 pribadi itu sendiri. aQ pribadi pengennya bs punya full time buat keluarga, klopun hrs kerja, insya Allah yang tidak membuat sy terpsah lama dgn calon suami & calon anak2…amin…..
*merenung*
ujuan hidup saya untuk menjadi Ibu rumah tangga yang bekerja dirumah ===>> wow…
cita2 yg luar biasa, berbahagialah
salut buat anda
c u…
de yang rindu dengan dikau sudah pasti ada. syukurlah akupun rindu dengan sahabat2. Apalagi sama si dia .
Kadang2 aku hanya memeluk kucingku dan ku usap dia dan kusapa puss udah makan belom lalu kugendong-gendong. kadang dia tidur di kakiku. wah aku pokoknya seneng banget sama kucingku itu. kadang kalo baru sampe rumah ehh kucingku yang nyambut.
ternyata fitrah binatang seperti itu ya.
Gimana dengan orang yang kucintai ya?
Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) .(QS. An-Nisa’(4):34).
Bekerja bisa di mana saja, begitu pula halnya dengan perempuan bekerja, semua harus dilakukan hanya untuk ALLAH, jalani sebagai ibadah..kalau yang terpikir kantor bukan tempatnya perempuan, wajar saja karena kita boleh bebas berfikir dan sampaikan pemikiran itu kepada ALLAH sebagai do’a niscaya pasti didengar, hanya ALLAH yang Maha Mengabulkan do’a hambanya..
Salam buat nay yang manis…
Semoga cepat kembali yuah…
Amiin..
Salam silaturahim…
salam kangen dulu buat Ade..
Ade.. impian atau khayalan Ade itu juga khayalanku dulu, tetapi perjalanan ternyata memaksa aku untuk mendiri De, Subhanallah saat-saat genting aku sdh diterima jadi PNS, padahal daftarnya ogah-ogahan.. kenyataan hidup menjauhkan aku dari khayalan itu…tapi ya tetep, gak bisa ninggal anak-anak untuk praktek malam hari..
cita2 kita sama sederhananya mbak.,,,
Wanita itu bagaikan intan berlian yang tak ternilai harganya.
Dengan kemiluannya yang sangat indah membuat intan berlian itu semakin cantik dan menawan, maka peliharalah….kemilauan itu agar semakin terawat dalam keagungan dan kecantikannya dengan membawa sifat2 yang baik pada dirinya. Menjaga diri dari hal-hal yang menyalahi Qodratnya sebagai wanita, dan memelihara diri senantiasa dalam kebaikan2. Itulah Wanita yang Sholehah sebagai Perhiasan yang lebih mulia dari pada dunia dan segala isinya.
hehe…. masak terinspirasi d katakan mencuri mba. wah2.
dr pada saya ntar di cekal di akhirat. sy ganti aja dah, deskripsi cerita saya.
“saya terinspirasi ibu saya, berarti saya mencuri dari beliau dunk” ^_^
iya saya ngerti. maaf mba, dari awal comment juga saya sudah bilang kl saya terinspirasi. sekali lagi maaf.
very good posting, boleh aku copy untuk notes di fes buk ku untuk membuka hati seseorang, trims pencerahannya
wah..wah bagus bener tulisannya, jadi merenung nih coz aku juga lagi bagus-bagusnya di karirku ‘lom punya baby sich tapi ntar mungkin kalo udah mo punya pengennya brenti karir coz for me family is everything. apalagi kalo punya baby……Skarang lagi merintis dulu karir sampingan biar bisa jadi utama. VISIT MY BLOG please.
Ya allah tumbuhkanlah 1000 wanita seperti ini dalam setiap detikMU agar sayap-sayap seorang lelaki dapat dikepakkan ke penjuru dunia dalam menyampaikan agamaMU “Sebaik-baik Jihad seorang wanita/Ibu adalah dirumah”
bagus untuk menjadi artikel
Satuju de, perempuan memang tempatnya di rumah …. Bahkan utk sholat sekalipun baiknya dirumah (hadits nya lupa nih). Selamat buat teman2 yang berani melepas profesi nya untuk mengikuti suami tugas kerja di luar negeri, untuk menjaga dan mendidik anak2 di rumah. Subhanalloh ….
mbak ade, saya perempuan lho bukan mas-mas
kedua, saya tergelitik dengan posting ini dan komen2 mbak ade, nah daripada saya kepanjangan komen disini, saya buat posting sendiri..
http://saat-melangkah.blogspot.com/2009/07/jadi-perempuan-itu-susah-kah.html
Menjadi Ibu rumah tangga dimana hanya mengurus suami dan anak anak adalah pekerjaan mulia, jadi hanya wanita mulia yang sanggup melakukannya dan perempuan yang tidak mulia akan memilih jalan sebaliknya.
Dan setelah sekian tahun mengenal Ade, saya tahu seberapa besar keinginannnya untuk menjadi Ibu yang dirumah.
NO FUTURE COMMENT
bingung say jadinya. pada dasarnya saya setuju sama sampeyan, tapi yang saya lakukan sekarang suami istri sama-sama nenteng cangkul, kalo ndak berat juga untuk nyicil rumah, nabung buat biaya pendidikan si kecil, beli ini itu, mumet saya…
Ass.Wr.Wb.
Subhanallah…
ga berani ngomong ah, takut salah…..
Ana kagum sekaligus takjub.
slm kenal ya De….
pgnku jg krja d rmh de’ spt ibuku blg “suksesny prmpuan d nilai saat dy brhsil mnyuguhkan secawan teh kedamaian utk klrga, bukan jabatan d ktr”
pi pngalamanku mmbuatku ga brniat utk berhenti krj d luar rmh…utk jaga2 jk sesuatu trjadi pd klurgaku, aq akan mampu brdiri tegak utk anakku..aq mampu mmberiny khidupan yg layak apabila lelaki prtma dlm hdpny yg hrsny mnjagany prgi krn 1 alasan…
Itu yg trjdi pdku dulu de..saat lelaki prtama dlm hdpku yg shrsny mnjagaku prgi mninggalkan aq n bunda utk hal yg baru..