Diujung jalan rumah saya, diujung jalan yang biasa saya lewati jika mencari jalan pintas menuju jalan utama, diujung jalan keluar ada sebuah rumah mungil yang tertutup diantara hamparan istana megah milik para sang kaya … dirumah mungil ini setiap pagi ada seorang nenek yang duduk diteras rumahnya yang halamannya menyentuh jalan yang saya lalui, dan disinilah embun pagi saya :)  

Iya, saya suka sekali senyum manis sang nenek yang polos tanpa jejeran gigi lagi, usianya mungkin diatas 75 tahun … Lewat jendela mobil saya yang selalu saya buka hingga ujung setiap kali melintas didepannya, saya dapat melihat senyum manis itu, memperlambat jalannya kendaraan agar saya dapat melambai dan biasanya ia akan membalas lambaian tangan saya dengan indahnya.

Melihatnya senyum manis itu bak melihat sekuntum mawar merah yang indah yang sedang menanti kupu kupu menghinggapinya untuk bertukar cinta, melihatnya saya seperti melihat hamparan padi yang tanpa ujung dibawah gunung yang mulai menurunkan kabutnya dan melihatnya duduk manis sambil bermandi matahari saya seperti melihat pegunungan himalaya yang indah … ia segala keindahan yang diciptakan ALLAH untuk saya.

Iya, nenek itu sangat manis senyumnya meski tanpa gigi, meski bibirnya telah terbingkai oleh kulitnya yang keriput, tapi senyum manisnya telah menghiasi hari hari saya, membuat saya ingin selalu melewati depannya sekedar melihat lirik matanya, kempot manisnya dan lambaian tanggannya … semua ritual itu seperti charger untuk jiwa saya yang kadang layu, sang nenek masih sangat menikmati hidup dan aura indahnya telah ditularkan kepada saya yang kadang tidak mampu mensyukuri napas yang ALLAH titipkan kepada saya … ah nenek itu membuat saya malu, terima kasih ya nek telah mengajarkan saya bagaimana memulai hari dengan senyum terindah didunia ini, agar saya bisa menularkan senyum ini kepada isi bumi ALLAH :)

Dan pagi ini saya melewati jalan yang sama berharap senyum manis itu ada disana, tapi yang saya temui adalah bendera kuning yang digantung di kursi plastik tempat nenek biasa duduk … yang saya temui kemudian adalah berkumpul kerabat sang nenek untuk mengantar nenek berpulang kepada sang pemilik napas … innalillahi wa inna illahi rajiun, nenek telah berpulang tanpa saya pernah mengenal siapa nama pemilk senyum manis itu :(

Saya sempatkan untuk menengok dan memastikan apakah itu nenek sang pemilik senyum manis yang selalu saya rindukan atau bukan … dan saya pastikan itu nenek manis, nenek baru saja dimandikan, baru saja dikafani dan telah wangi dengan baju terakhir putih dan harum melati… ah saya tak kuasa untuk tidak mencium harum tanggannya, jika waktu bisa kembali, saya akan berhenti sejenak dan bertukar cerita dengannya tapi kini nenek tak mungkin lagi mendengar ocehan saya bahkan sekedar bertukar senyum seperti yang biasa kami lakukan tak mungkin lagi kami lakukan… :(

Saya hanya mampu terdiam dalam hening sambil terus mengenang senyum manis sang nenek yang bak embun, keranda telah disiapkan, nenek masih dengan senyum manisnya akan diberangkatkan menuju lipatan tanah, menuju mahkamah pengadilan milik ALLAH dan yang pasti nenek meninggalkan saya dengan embun diujung mata saya yang terus saya seka dan terus turun lagi :)

Selamat berpulang nek, bukankah setiap napas pasti akan terhenti … hanya masalah waktu, dan kini waktunya nenek mungkin esok atau lusa akan menjadi waktu saya :)

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un ( Sesunggguhnya segala sesuatu milik Allsh dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali ). 

“Ya Allah ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, ma’afkanlah dia, baguskanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, mandikanlah ia dengan air, salju dan embun, bersihkanlah ia dari dosa dan kesalahan sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Jadikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya, pasangan yang lebih baik dari psangannya, masukkanlah ia ke dalam sorgaMU dan lindungilah ia dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah ia dalam kuburnya dan berilah ia cahaya didalamnya”.  amin ya Rabb :)

42 Komentar

  1. dik,
    aku mengetuk pintu :)

  2. Kasian sang nene itu ya, tapi wajar lah, namanya jg sudah tua… kadang nginget mati enak nya mati muda… biar dosa nya ga banyak… hehehe

  3. Sesunggguhnya segala sesuatu milik Allsh dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali

  4. segala sesuatu itu pasti kembali pada Nya ya sist…..

  5. Kelak kita juga bernasib seperti nenek, Tinggal waktunya saja, Hanya saja ditengah waktu itu akan datang, sudahkah kita memiliki bekal yang cukup?

  6. Innalillah, segala dari Allah kembali kepadanya…
    semoga di Surgakan :)

  7. dust to dust….

  8. sangat menginspirasi ceritanya..btw kehadiran mbak ditunggu di blog saya..

  9. Segala sesuatu pasti kembali kepadaNya ya Teh. Sungguh berguna hidup si nenek manis yang telah memberikan hikmah buat orang lain. Dan bergunalah hidup orang yang mampu membacanya.

  10. HALLUU….cengkyouu udeh mampir di blog kyu!…..

    hmmmm nyokk kita duduk berdua….

    “kita bercerita tentang langit biru…tentang laut biru….di sana harapan dan impian….benci222 tapi rindu jua…memandang wajah dan senyummu sayang huo huo huo (nyanyi mellow lagu jaman nenek masih gigit besi mode : ON!)

    wihihihi sorrii dakyu ga gape bikin kata22 keren puitis plus TINGGI kek dirimu! (secara dakyu pas lagi ga bawa tangga nih! pinjem tangga ke tetangga duluk bentar yaaa! tuing….tuing!!!)

  11. salam u/mbak rindu & semuanya….

    blm terlambat untuk saat ini menanyakan siapakah pemilik nama dengan senyum indah tsb ke keluarganya…

    jika perlu, katakan kepada keluarganya, betapa almarhumah menghiasi hari2 mbak dgn senyuman tsb, disertai ucapan terimakasih. Sama spt ucapan terimakasih saya kpd mbak yg berkenan menuliskan kata2 indah di blog ini, sbg nuansa kontemplasi diri2 kita semua….

    trimakasih ya mbak…

  12. ikut berduka cita

  13. Baru buka blog kamu, bacanya udah berita duka De ….
    hemmm …. semoga Allah melapangkan jalannya.

  14. Ngomentarin judul, Embun bisa senyum..Wah keren tuh, hehehehehe

  15. Innalillahi wa’inna illahirraji’un….
    :sad:
    Saya punya rumah baru mbak rindu, silahkan berkunjung yah.. Diedien®

  16. menginspirasi sekali…
    semoga kita bisa bercermin dari kisah ini…

    “waspadalah dg masa mudamu sebelum datang masa tuamu”, agaknya perlu untuk direnungkan… :)

  17. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,
    turut berduka cita kak m(_ _)m semoga ia tenang disisinya…

  18. Sudah nenek-nenek manis senyumnya, apa lagi selagi muda, semoga damai disisnya ya Nek.

  19. aku datang dengan senyum itu :mrgreen:

  20. Senyuman selalu indah, terutama senyum yang ikhlas dan bersahabat. Tidak peduli apakah senyuman tersebut dihiasi oleh gigi yang bagus, ataupun dihiasi oleh gigi yang tidak lengkap lagi, atau bahkan tanpa dihiasi oleh gigipun senyuman tetaplah indah. Tidak mengherankan….. apabila senyuman tersebut hilang… kita akan selalu merasa kehilangan keindahannya…. :)

  21. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
    dan setiap yg bernyawa pasti akan merasakan mati…

  22. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
    semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya. Amin

  23. sebagai hambaNya yang dhaif
    sudah seharusnya kita selalu
    belajar dari tanda tanda (ayat2)Nya
    termasuk belajar dari nenek2
    yg sudah kembali kpd pangkuanNya itu
    dari nenek itu kita belajar
    soal perlunya bersikap pasrah hanya padaNya
    dan selalu senyum (optimis) menjalani
    kehidupan nan fana ini

  24. semoga Tuhan memberikan hati yang peka untuk belajar hidup terus menerus. teruslah belajar dan jangan takut akan kesalahan, asalkan bisa mengakui dan memperbaikinya. amin.

  25. maka memang…
    segala sesuatu itu milik ALLAH.
    ya, termasuk senyum nenek itu.

    ALLAH memang biasa memberikan keindahanNYA melalui (dulu) pantulan2 oleh makhlukNYA. Mba rin, dapat pantulan itu dari seorang nenek.
    diharapkan itu kemudian menjadi tadabur kita untuk mendekat kepada pencipta dan pemilik senyum itu.
    apakah setelah kita merasakan keindahan itu kita tergantung kepada pantulan itu, atau kita mencoba mencari sumbernya…

  26. semua kembali pada-Nya……

  27. innalillahi wainnailaihi rajiun. . .
    selalu saja diingatkan bahwa gg selama’a kita ada di dunia .

  28. Semua Kembali kepadanya…
    Miss You GrandMa…

  29. Sebagai manusia, hanyalah waktu yang akan memisahkan raga dari dunia fana. Ah…bukankah kita hanya bersikap egois apabila berada dalam kekufuran ?

  30. senyum manis ga hanya datang dari wajah manis/tampan tapi apakah kita senyumnya tulus pa ga… lagian cuma berbagi senyum kan ga susah, ga pake bayar, ga ada yang hilang :)

  31. Memulai hari dengan senyum, selain menyenangkan diri sendiri juga akan menyenangkan siapapun yang melihatnya.

  32. ku harapkan senyuman itu adalah senyuman yg nyaman yg akan selalu kamu sugguhkan,nona? hehe….daku di beri senyuman olehmu juga tdk akan pernah marah. rindu gitu lho.hehehehe…..salam hangat selalu

  33. hikmah ada di mana saja..
    tak sama tapi serupa :
    http://agustian.wordpress.com/2008/10/10/lelaki-tua-itu/

    keduluan euy..:D

  34. innalillahi wa inna illahi rajiun…. mudah2an senyum manis nenek itu jadi berkah dialam kuburya…

  35. turut berduka ya ukhti
    saya jadi inget senyum nenek saya yg terakhir kemarin
    tabah ya

  36. astaghfirullahhal ‘aziim, nenek si pemilik senyum masnis yang selalu dirindukan mbak rindu tekah berpulang ke haribaan-Nya. semoga semua dosa dan kesalahannya terampuni dan dilapangan jalan menuju ke haribaan-Nya. jika ajal telah datang, tak seorang pun sanggup pemolak kehadirannya.

  37. Inallilahi wainailaihi rojiun…..
    Semoga nenek tuh di sambut oleh Allah dan diberi hidangan2 dari surga. AMIN.

  38. Yang ini absen aja ya….

  39. Slamat jalan Nek…

    Kadang hal kecil yg dilakukan orang lain, bisa menjadi sangat berarti untuk kita.

    Ketulusanlah kunciñ.
    Senyum. :)

  40. hanya Dia Yang Maha Kekal lagi Maha Hidup…

  41. Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun…

    Semoga Allah terima amal ibadahnya ya de…
    semoga kita yang masih Allah titipi nafas (like u said) mampu bercermin…

    bis smile for you de…have a nice day..

    hugs,
    Ninta

  42. saya juga pernah merasakan apa yang De rasa
    dulu saya jarang bertemu kakek, padahal rumahnya deket.
    Ibu sering ngomel karena saya gak pernah menjenguk kakek.
    saat itu saya bosen denger cerita dan nasehat dari kakek
    yang tidak pernah berubah.
    beliau selalu cerita tentang perjuangannya dulu melawan
    sekutu di surabaya dan keluh kesahnya saat pendudukan jepang.
    kadang saya sampe terkantuk-kantuk mendegarnya.
    [dasar cucu kurang ajar]
    mungkin sifat kakek itu di sebabkan tidak adanya perhatian
    dan penghargaan dari pemerintah serta orang-orang di sekitarnya.
    setelah beliau meninggal saya baru sadar mengapa bukan cucunya sendiri
    yang memberikan perhatian dan menghargai perjuanganya.
    mungkin beliau akan lebih bahagia kalau cucunya bangga atas dirinya.

    waduh maap nih gak terasa komennya jadi panjang gini
    kayak tuker cerita jadinya :)


Tulis sebuah Komentar

*
*