Dikampus saya mempunyai seorang sahabat, yang jika dia berkata-kata hampir pasti menyakitkan… ‘ah itu kan perasaan saya saja’ itu yang tertanam dalam jiwa saya pada awal-awal saya mengenalnya, tapi setelah 2 semester bersama, saya menyadari bahwa ini bukan perasaan saya yang sesaat sensitive, jadi ini bukan tentang saya tapi tentang sahabat saya itu yang entah bagaimana proses pendewasaan jiwanya sehingga yang keluar dari mulutnya selalu kata-kata yang menyakiti hati saya dan sahabat-sahabat saya yang lain, seandainya dia tahu, luka ini terus tertanam meski durinya telah tercabut :)

Saya mengerti jika satu persatu sahabat saya mulai menjauhinya karena tidak akan sanggup berdampingan dengannya jika hal-hal positive menjadi negative, jika kata-kata “bego” menjadi nama panggilan untuk sahabat yang lain … dan saya juga tidak ingin tergiring ke neraka karena ikut-ikutan memenuhi jiwa saya dengan amarah [no thanks, saya tidak mau]… duh terbuat dari apa sih hati manusia ini? who do you think you are… iya, tidak ada kasih sedikitpun keluar dari jiwanya yang tandus  :(

Saya tersadar kini bahwa Allah yang menciptakan diri saya dan menentukan hidup dan mati saya saja tidak pernah “sepatah kata” pun mencaki-maki dan mengumpat diri saya, apalagi merendahkan saya. Teguran-teguran yang ALLAH sampaikan begitu amat halusnya, halus dengan kata-kata lembut, suci. Tanpa marah-marah meski tanpa basa basi pula, tanpa melukai fisik dan jiwa saya yang kerap di tegurNya… Subhanallah.

Ah sudahlah … saya datang kekampus untuk menuntut ilmu karena ALLAH, mengapa niat baik saya harus saya racuni dengan perkataan sahabat saya yang menyakitkan, tidak seharusnya saya marah bukan? hanya akan melukai jiwa saya yang halus. Iya, saya tersadar sekarang dengan kekasaran sahabat saya ALLAH menegur saya bahwa saya harus iklas menuju kampus, untuk menuntut ilmu [saja] bukan untuk sekedar keluar dari rumah, atau sekedar berkumpul tertawa tanpa jelas tujuannya.

ALLAH, terima kasih sudah mengingatkan saya tentang tujuan awal saya, terima kasih sudah meluruskan kembali niat saya datang kekampus, mungkin jika tidak ada sahabat saya yang kasar ini, saya akan sibuk bergaul semu, bukan menuntut ilmu :)

Kini saya juga belajar ikhlas agar kata-kata tajam yang terhunus kelubuk hati saya tidak akan melukai hati saya, tapi justru membuatnya tambah kuat lagi dan lagi … setelah mendapat hikmah dari luka ini, bahwa ini adalah cara ALLAH mencintai saya maka luka-luka ini tidak terasa lagi… dan saya tidak mau menjadi sahabat yang kasar itu, saya akan memilih diam jika tidak bisa berkata lembut, saya ingin lembut agar bahasa saya tercium harum, mewangi menebar salam, berisi kasih dan pasti kehadiran saya akan selalu dinanti karena indah … bukankah ALLAH sangat mencintai keindahan.

ALLAH menegur saya melalui luka, agar saya belajar menjadi lembut … terima kasih ALLAH :)

15 Komentar

  1. pengen deh positive thinking kayak mbak rindu..

    *yey, pertama

  2. saya tidak tahu…mungkin dia tidak sadar kata-katanya menyakitkan

  3. masih ada sahabatmu yang lain.

    kami disini hadir dan menyapa melebihi saudaramu sendiri.
    “di ruang rindu kita bertemu…”

  4. masih ada sahabatmu yang lain.
    kami disini hadir dan menyapa melebihi saudaramu sendiri.
    “di ruang rindu kita bertemu…”

  5. iya mba.. aku juga belajar ikhlas..

  6. Allah cinta pada keindahan, indah mba..artikelnya indah.

  7. Aku juga senengnya yang indah-indah, begitupun tutur bahasa jeng Rindu, indah.

  8. Itu yang barusan dibahas di blog sy mba..
    opininya : semua ada trade-off

  9. ahh, apalah arti sebuah kata

    kadangkala kata2 halus tidak mencerminkan jiwa seseorang..

    sebab ada jg yg emang biasa kasar omongannya, tapi hati dan tindakan nyatanya lebih halus

    betulkah kata cerminan jiwa?

  10. nyang penting diri kita gak ikut-ikutan jadi kasar

  11. sadarkah kalau ikhlas itu indah..
    seperti kita mengikhlaskan diri di jalan Allah..

  12. aku baru lagi belajar ikhlas
    kayaknya maih jauh deh untukku mampu :)

    • iristhelandscapedesign
    • Dimuat Juli 22, 2008 pada 12:23 pm
    • Tautan permanen

    salam kenal mbak Rindu..
    baca postingan2 mbak bikin merinding deh…nice postings mbak..:)

    soal temen yang suka nyakitin hati, aku pernah punya..dl aku slalu ngehindar aja, drpda aku jd kepancing ngomong kasar juga..hehe..
    n cara mbak dengan ikhlas menghadapi n malah bs jd point introspeksi, subhanallah..kyknya musti banyak blajar deh sama mbak rindu…
    aku link ya mbak..blogku:www.anintadiary.blogspot.com

    salam,
    Ninta

  13. hebatt ya…
    orang yang sering melukai perasaan aja masih sering disebut sahabat.

    btw, aku mau coment di tulisan lain kok muncul tulisan “Duplikasi komentar terdeteksi; sepertinya Anda telah mengatakan itu!”

  14. “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan IKHLAS menyelamatkan keduanya.” [nukil perkataan salah seorang generasi tabi'in, lp namanya]


Tulis sebuah Komentar

*
*